Sunday, 21 September 2014
Meja Redaksi
Home - Artikel - Big Picture Dakwah Kantor: Sebuah Grand Strategy

Big Picture Dakwah Kantor: Sebuah Grand Strategy

Sudut pandang mengenai dakwah dan posisinya di tengah masyarakat harus dipahami oleh para penggerak dakwah (aktivis). Bila ingin berdakwah dengan efektif, maka dibutuhkan sikap yang memahami kondisi dan posisi dakwah itu sendiri, khususnya dakwah di perkantoran yang saat ini marak berlangsung, terutama di kota-kota besar di Indonesia.

Dakwah merupakan suatu proses pemasaran nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas di tengah lingkungan yang penuh dengan kebebasan. Dalam implementasinya dakwah bersaing dengan “produk” lain yang juga sama-sama ditawarkan dengan berbagai hal yang menarik.

“Produk pesaing lain” tersebut adalah kemaksiatan, yang dengan gigih ditawarkan dengan berbagai kemasan dan fasilitasnya. Selain kemaksiatan tersedia pula paham sekularisme yang dipahami sebagai paham yang memisahkan urusan agama dengan urusan duniawi. Paham ini terus tumbuh dengan pesat seiring dengan promosi yang disertai dengan black campaigntentang bahayanya Islam yang diindentikkan dengan fundamentalisme dan sejenisnya.

Di samping menghadapi rival utamanya berupa kampanye pemasaran berbagai kemaksiatan dan juga faham sekularisme tersebut, dakwah juga dihadapkan pada tantangan berat berupa lingkungan yang serba permissive, sebuah nilai yang menawarkan kehidupan yang serba boleh. Hal-hal yang tabu dianggap biasa, yang tidak pantas menjadi pantas, dan hal-hal yang seharusnya dilarang menurut norma dan etika bermasyarat menjadi legal dan boleh, bahkan malah dianjurkan. Dakwah juga harus menghadapi tantangan berupa perpecahan umat yang terus menggejala dan siap meledak setiap waktu.

Pendekatan Da’wah

Hakikat dakwah sejatinya adalah “mengubah” (to change). Mengubah manusia dari nilai-nilai yang melingkupinya berupa pemikiran, karakter, budaya dan perilakunya menjadi nilai-nilai yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Maka fokus dakwah haruslah pada bagaimana berupaya melakukan proses adjustment terhadap seluruh nilai tersebut agar sesuai dengan nilai Islam dengan efektif.

Metode perubahan dapat dilakukan dengan berbagai cara, dan agar orang tertarik untuk melakukan perubahan di dalam dirinya, maka cara yang dipergunakan haruslah menarik pula. Agar dipandang menarik dan lebih memikat, maka dakwah seharusnya dapat terus ber-inovasi dan ber-improvisasi. Hal ini bertujuan agar produk dakwah berupa nilai-nilai kebaikan dapat diserap dan dipahami oleh umat selaku konsumen, dengan mudah dan cepat.

Aktivis dakwah memahami bahwa metode penyampaian dan lingkup materi dakwah membutuhkan diferensiasi untuk setiap segmen masyarakat. Dibutuhkan cara penyampaian dan kualitas materi yang berbeda untuk tipe masyarakat yang berbeda pula.

Secara strategis, peta dakwah global harus dapat menguasai dan mewarnai tiga sektor utama, yaitu: civil society sector, state sectordan  business institution sector atau private sector.

Civil society merupakan komunitas informal leader yang mempunyai pengaruh sangat kuat di masyarakat. Mereka menjadi role model bagi masyarakat di lingkungannya dan biasanya pengaruh tersebut mengakar kuat pada komunitasnya. Untuk sektor ini, dakwah menjadi sangat strategis, karena jika dakwah dapat menguasai lini ini, maka Islamic value akan secara efektif dapat dengan mudah masuk pada level masyarakat yang lebih luas.

Sektor ke dua adalah State (negara) yang terdiri dari eksekutif, legislative, dan yudikatif tentu sangat strategis untuk diwarnai oleh dakwah. Di level negaralah seluruh kebijakan dan perundang-undangan dilahirkan, karenanya dakwah harus secara serius menggarap sektor ini. Pertama, dakwah harus dapat menggiring lahirnya perundang-undangan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, dan yang kedua, dakwah juga harus dapat mengawal law enforcement terhadap perundang-undangan tersebut. Jika dakwah dapat menguasai sektor ini maka nahi munkar akan lebih mudah diimplementasikan.

Sektor ketiga adalah business institution atau sering disebut juga private sector. Ekonomi sebuah negara sangat tergantung dari institusi ini. Sektor ini memiliki kekuasannya sendiri yang tidak bisa dijangkau oleh negara sekalipun, bahkan ia menguasai “panggungnya” sendiri yang menjangkau lintas negara dalam komunitasnya. Terkadang pengaruhnya begitu kuatnya sehingga eksistensi dan legitimasi penguasa negara juga tergantung dari institusi ini. Maka dakwah terhadap pelaku usaha pada institusi ini juga sangat strategis. Tanpa menyentuh sektor ini, maka dakwah akan sulit berdiri tegak mengingat di sektor ini pulalah funding dakwah dapat diciptakan dengan lebih leluasa.

Membicarakan dakwah di perkantoran, maka sebenarnya kita sedang membicarakan dakwah pada sektor ke tiga ini. Dakwah kantor adalah berbicara tentang bagaimana “mengubah” (to change)manusia yang berada pada institusi bisnis ini, baik pengusaha maupun pekerjanya ke arah yang sesuai dengan ajaran dan tuntunan Islam yang benar.

Karena dianggap sangat strategis, maka dakwah kantor-pun harus digarap dengan sangat serius dan dengan strategi yang baik. Para aktivis dakwah juga memandang bahwa masyarakat perkantoran yang notabene berisikan manusia-manusia pekerja dengan strata pendidikan cukup tinggi membutuhkan metode dakwah yang cerdas dan elegan. Selain itu juga disampaikan dengan cara yang praktis dan mudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Account Dakwah Perusahaan (ADP)

Dakwah kantor atau dakwah perusahaan seharusnya fokus pada dua hal: pertama, islamic personality building yaitu pembentukan kepribadian islami setiap individu. Kedua, dai character building, yaitu pengembangan individu yang telah memiliki kepribadian islami hingga memiliki karakter seorang dai.

dakwah-kantor-th01-3Islamic personality tentunya harus disandarkan pada standar karakter individu sesuai dengan ajaran Islam yang sempurna. Individu yang menjaga keseimbangan dunia dan akhiratnya, harus mencapai prestasi puncak di dunia dan prestasi puncak di akhiratnya kelak. Sedangkan dai character adalah karakter utama yang harus hidup dalam setiap individu untuk memenangkan “pertarungan” dalam memasarkan nilai-nilai Islam (Islamic value) di tengah-tengah propaganda produk nilai-nilai pesaing lainnya.

Individu-individu yang telah memiliki dua hal inilah yang disebut sebagai Account Dakwah Perusahaan (ADP). Para account dakwah ini akan terus berkiprah sebagai pelaku-pelaku dakwah di perusahaan. Karena itu, termasuk output utama dari dakwah perusahaan tersebut adalah terbentuknya individu-individu ADP ini yang siap menjadi agent of change di masyarakat perkantoran yang lebih luas.

Jika kita gambarkan, maka kita akan menemukan bahwa semua individu kantor adalah sekelompok masyarakat yang majemuk. Di tengah lingkungan yang majemuk tersebut, para ADP ini akan menjadi kelompok inti dari perilaku masyarakat yang harus diubahnya. Mereka harus mampu mewarnai setiap aktivitas sehari-hari di kantornya dengan tuntunan Islam yang benar, dan mampu menampilkan sikap yang dapat dijadikan teladan bagi lingkungannya. Selanjutnya diharapkan pula mereka mampu “mewarnai” setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh perusahaan. Dengan demikian terciptalah sebuah kehidupan masyarakat perkantoran yang dipenuhi dengan nilai-nilai Islami. Kita bisa membayangkan sebuah lingkungan dengan hubungan antar individu yang harmonis, bekerja keras dengan team work yang solid, profesional dan saling menghargai satu sama lainnya. Tentunya hal ini diharapkan dapat mendorong peningkatan performansi perusahaan yang terus tumbuh dengan baik dan sehat.

About Fathoni

M Fathoni Yasin, Sekjen Majelis Ta'lim Telkomsel dan juga aktif sebagai penulis pada salah satu rubrik di Majalah Oase

Leave a Reply